Home > Berita > “Ditemukan Fakta-fakta Mencengangkan!!”, dari Hasil Riset KPU Kota Bengkulu

“Ditemukan Fakta-fakta Mencengangkan!!”, dari Hasil Riset KPU Kota Bengkulu

Dari hasil penelusuran tim peneliti ditemukan fakta mencengangkan bahwa kenaikan angka kehadiran pemilih memang tidak konsisten. Data perkembangan kehadiran/ketidak-hadiran pemilih pada Pemilu Legislatif tahun 2004, 2009, dan 2014 di Kota Bengkulu menunjukkan gambaran fluktuasi. Kenaikan jumlah pemilih menentukan kenaikan jumlah TPS dari Pemilu Tahun 2004 sampai Pemilu Tahun 2014. Kenaikan jumlah TPS dari Pemilu 2004 ke Pemilu 2009 relatif kecil, yaitu 1,5 persen; sementara kenaikan jumlah TPS dari Tahun 2009 ke Pemilu 2014 jauh lebih besar, yaitu 12,8 persen. Kenaikan jumlah TPS merupakan implikasi dari harapan akan kehadiran pemilih / voters ke TPS. Harapan kenaikan angka partisipasi politik ini terjadi secara signifikan dari satu Pemilu Legislatif yang satu ke yang lain dalam kurun sepuluh tahun terakhir. Namun seiring dengan gejala peningkatan jumlah TPS ini, disertai dengan peningkatan proporsi golput. Indikasinya, golput bukan hanya karena rendahnya kesadaran politik warga dan keraguan akan kemampuan Caleg, tetapi ada unsur transaksi suara atau vote buying. Gejala vote buying ini menjadi salah satu alasan mengapa penelitian political turnout perlu dilakukan oleh KPU Kota Bengkulu. Adapun fakta-fakta yang menarik secara tuntas dibahas dalam riset ini, yaitu :

  1. Transaksi Suara (Vote Buying)

“Bahaya” transaksi suara atau vote buying sangat kuat. Banyak narasumber yang sangat yakin bahwa kehadiran dan ketidakhadiran pemilih dikontrol oleh transaksi suara. Memang sangat sulit untuk membuktikan secara hukum, namun semua tokoh masyarakat, aktivis LSM, kelompok muda, dan personel parpol sendiri yakin vote buying ada dan menggurita di segala lapisan. Mereka yakin, perkembangan pesat relasi antara vote buying dan kehadiran ini dimulai sejak Pilkada langsung, yaitu pada tahun 2004.

  1. Dinamika Golput

Agak berbeda dari tren kenaikan jumlah pemilih dan kenaikan kehadiran pemilih ke TPS, dinamika angka Golput antara Pemilu 2004 – 2009 jauh lebih besar dibanding angka Golput pada Pemilu 2009 – 2014, yaitu 28,4 persen. Sementara angka Golput tahun 2014 turun dari angka Golput Tahun 2009 sebesar 0,36 persen. Munculnya tren golput tidak hanya memberi implikasi pada meningkatnya kesadaran masyarakat akan hak untuk tidak memilih, terutama apabila didapati tidak satupun kandidat yang menarik hati pemilih. Salah satu yang mengejutkan dari keputusan golput, ternyata juga berkaitan dengan gagalnya transaksi suara. Vote buying tidak berhasil mencapai kata sepakat, maka pemilih tidak hadir ke TPS, dan artinya tidak memilih. Keputusan itu relatif pilihan yang rasional, sebab kandidat tidak memiliki modal sosial, kurang meyakikan akan kapasitasnya, dan diasumsikan sama dengan kandidat-kandidat sebelumnya, yang duduk di kursi Parlemen tanpa membuat perubahan apapun.

  1. Caleg Lokal (Kabupaten/Kota)

Temuan yang menarik adalah proporsi dukungan kepada kandidat untuk Parlemen lokal. Data jelas Menunjuk besarnya dukungan kepada caleg Parlemen lokal dibanding Parlemen Propinsi dan Nasional. Fenomena ini sama dengan fenomena demokrasi di negara maju dengan sistem distrik. Para pemilih berusaha hadir ke TPS untuk memastikan kandidat untuk kursi Parlemen lokal pilihannya akan menang.

  1. Matrealisasi Parpol

Dari hasil penelurusan melalui FGD dan wawancara secara mendalam dengan beberapa narasumber di temukan adanya interkoneksi antara isu political turnout dengan kondisi Caleg dan pergulatan internal Parpol. Secara internal kader yang ada di dalam Parpol mengalami keterpurukan bila mereka tidak memiliki dana yang cukup untuk mengikuti pencalonan. Bahkan tidak sedikit kader dan pengurus yang terpaksa mengalah dan memberikan peluang sebagai calok wakil rakyat, hanya karena tidak memiliki dana yang cukup. Gejala ini secara “kasar” dapat disebut sebagai proses “pelacuran” SDM partai kepada orang-orang yang tiba-tiba masuk partai dan minta nomer urut calon karena membayar Partai. Bagi peneliti fenomena ini dapatlah disebut sebagai meterialisasi Parpol. Parpol tidak mampu lagi membesarkan kader sendiri, dan terpaksan memberikan akses kader kepada pihak lain, yang tidak memiliki visi dan tidak mengerti platform partai.

Saat ditanyakan apa usulan/rekomendasi Parpol agar golput bisa turun, partisipan dari Partai merespon bahwa idealnya memang Parpol melakukan sosialisai ke pihak “bawah”. Jadi ada sistem pengorganisasian, masyarakatnya bisa mencari partai yang sesuai dengan kepentingannya. Ini diperkirakan bisa menurunkan angka golput. Pada tahun 2014 lalu, golput sudah berkurang dan mudah-mudahan nanti tahun 2019 bukan lagi berkurang tapi sangat berkurang. Menurut prediksi nya ke depan masyarakat akan lebih berhati-hati menghadapi Caleg yang menggunakan uang. Kecenderungan masyarakat memperoleh informasi dari media, membuat mereka makin cerdas, mereka juga memantau perilaku wakil rakyat di ruang sidang. Mereka sangat kecewa melihat TV di mana para anggota dewan saling lempar kursi.

Rekomendasi dari petugas TPS melalui FGD adalah waktu pemilihan itu jangan dilaksanakan dalam satu hari. Atau pada hari H diliburkan, dan diberi jeda sekitar dua hari sebelum hari H. Jadi para pemilih yang sedang berada di luar daerah pemilihan bisa kembali kekampung untuk memilih. Misalkan tanggal pemilihan adalah tanggal 10, maka dua hari sebelum jadwal diliburkan. Setidaknya masyarakat punya waktu dua hari untuk melaksanakan pemilihan tersebut. Kemudian penggunaan data di DPT bisa menggunakan KTP atau KK, dan identitas apapun yang menjadi syarat kita untuk pemilih. Untuk memilih, pemilih tidak harus tercantum namanya di DPT.

Rekomendasi Aktifis Perempuan – “…saya mengusulkan sebagai warga biasa – saya sering melihat media sosial (instagram) di Jakarta, ada program-program yang dijalankan KPU yang bertujuan untuk mendatangkan masyarakatnya ke TPS untuk memilih. Ada KPU yang menarik pemilih dengan cara memberikan makanan gratis. Jadi beginilah mereka membuat langkah inovatif, agar pemilih menggunakan hak pilihnya – sebagai “hadiah” nya mereka mendapatkan minuman atau makanan gratis setelah menunjukkan tinta di jarinya. Nampaknya cara itu memiliki pengaruh tersendiri untuk mendatangkan pemilih.

Demikian pointer hasil publikasi riset yang dilaksanakan Selasa (22/9). Acara tersebut digelar Komisi Pemilihan Umum Kota Bengkulu menggaet Tim Peneliti dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Bengkulu. Melalui Divisi Sosialisasi, SDM dan Pendidikan Pemilih, Sri Hartati menyampaikan bahwa Riset Pemilu ini dilakukan mengacu kepada Surat Edaran Komisi Pemilihan Umum Nomor : 155/KPU/IV/2015 tanggal 06 April 2015 Perihal Pedoman Riset tentang Partisipasi dalam Pemilu. Dan melalui Rakor KPU Se-Provinsi Bengkulu tanggal 19 April 2015, KPU Kota Bengkulu di berikan Tema “Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih di TPS (Voters Turn-Out).

Riset yang dilakukan selama hampir 3 (tiga) bulan ini, lanjut Samsul Bahri, yang saat ini menjabat Plt.Sekretaris KPU Kota Bengkulu, dimulai dari tanggal 15 Mei s/d 15 Agustus 2015, dilaksanakan bekerjasama dengan Dosen Fisipol Universitas Bengkulu, yaitu Ibu Dr.Titiek Hendrastiti, MA dan Wahyu Widiastutsi, S.Sos.,M.Sc, dibantu oleh seorang mahasiswi fisipol Rizda Afini. Riset ini dilaksanakan setelah penandatanganan kontrak penelitian Nomor : 01/SP/V/2015 antara Pejabat Pembuat Komitmen dengan Ketua Tim Peneliti.

Satu hal yang paling menggelitik dalam kegiatan publikasi ini, muncul di tengah-tengah peserta yang hadir, mereka mengiyakan adanya aturan perundang-undangan yang mengatur tentang reward atau hadiah bagi para pemilih yang hadir ke TPS untuk meluangkan hak pilihnya. Tentu saja hal ini perlu pemikiran dan kajian lebih mendalam lagi terutama bagi kaum legislator, tandas peniliti, ibu titiek hendrastiti sambil tersenyum. (Zhr).

Riset Pemilu KPU Kota Bengkulu 2015, dapat diunduh disini.

About Zohry Junedi

Baca Juga

PENGUMUMAN PERUBAHAN DCT ANGGOTA DPRD KOTA BENGKULU

KEPUTUSAN KOMISI PEMILIHAN UMUM KOTA BENGKULU NOMOR : 30/HK.03.1-Kpt/1771/KPU-Kot/I/2019 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN KOMISI PEMILIHAN …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *